Setelah menjalani kehamilan risiko tinggi akibat penyakit trombositemia esensial, proses melahirkan yang harus saya jalani tak kalah berisiko, loh! Sukses menjalani kehamilan selama sembilan bulan tanpa adanya komplikasi pada saya dan janin, risiko tetap mengintai pada proses melahirkan. Lagi-lagi, saya harus menjalani prosedur persiapan sebelum operasi caesar yang cukup banyak.
Pada artikel ini, saya akan berbagi cerita terkait pengalaman melahirkan operasi caesar akibat penyakit kelainan darah langka yang diderita. Cerita ini diharapkan bisa berguna bagi para penderita tormbositemia esensial yang sedang berjuang mengandung dan melahirkan anak. Lanjut baca di bawah ya, Brightees!
Baca juga: Menjalani Kehamilan Risiko Tinggi Akibat Trombositemia Esensial
Risiko melahirkan dengan operasi caesar pada penderita trombositemia esensial
Akibat penyakit trombositemia esensial yang diderita, saya tetap harus mengonsumsi obat selama menjalani masa kehamilan. Penurun trombosit, antiplatelet, dan beraneka jenis vitamin adalah obat berbentuk kapsul yang harus rutin diminum. Sedangkan antikoagulan alias pengencer darah disuntikkan sebanyak dua kali setiap harinya.
Obat pengencer darah ditujukan untuk menjaga aliran darah di tubuh saya tetap lancar dan tak menghambat distribusi makanan pada janin. Namun, obat ini cukup berisiko jika tetap dikonsumsi mendekati masa melahirkan. Alasannya karena obat ini akan membuat darah menjadi encer dan menghambat proses pembekuan darah. Akibatnya, saya rentan mengalami pendarahan ketika melahirkan dengan operasi caesar!
Di sisi lain, jika pemberian obat pengencer darah ini dihentikan, maka akan meningkatkan risiko terjadinya bekuan darah di tubuh saya. Stroke dan serangan jantung adalah dua komplikasi yang dapat mengancam apabila bekuan darah terbentuk. Dilema banget!
Baca juga: Ini Daftar Obat Bagi Penderita Trombositemia Esensial, Gak Boleh Skip minum!
Dua dokter yang berbeda pendapat
Selain berada di bawah pengawasan ketat dokter kandungan, saya juga diawasi oleh dokter sub spesialis hematologi selama kehamilan. Kedua dokter ini berbeda pendapat terkait risiko yang mengintai ketika persalinan tiba. Dokter kandungan tak mau ambil risiko terhadap terjadinya pendarahan saat proses melahirkan dengan operasi caesar. Maka, ia menyarankan untuk mengehntikan pemberian obat anti platelet dan anti koagulan.
Sementara itu, dokter hematologi tak menyarankan penghentian pemberian obat, mengingat komplikasi yang akan saya alami. Dokternya beda pendapat, pasiennya bingung! Lagipula, dokter hematologi meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja selama kekentalan darah saya tetap terjaga. Lalu, apa solusi dari perbedaan pendapat ini?
Baca juga: Dikira Sakit Maag, Ternyata Idap Penyakit Kelainan Darah Langka Trombositemia Esensial. Waspadalah!
Solusi di antara dilema melahirkan dengan operasi caesar
Di tengah perbedaan pendapat yang terjadi, akhirnya dokter hematologi mengambil keputusan yang dianggap bisa menjadi solusi. Ia menyarankan untuk menghentikan pemberian obat anti platelet sepuluh hari sebelum jadwal melahirkan dengan operasi caesar. Sedangkan antikoagulan dihentikan satu hari menjelang operasi caesar. Meski begitu, ia tetap mengingatkan risiko yang harus saya hadapi. Ia pun mengingatkan saya untuk terus memanjatkan doa pada Allah SWT agar memberi keselamatan. Tak lupa ia memotivasi saya untuk pasrah terhadap takdir yang digariskan.
Seketika saya pun bergetar dan sangat takut akan kehilangan nyawa ketika melahirkan. Sungguh, saya belum siap membayangkan nasib bayi saya yang harus kehilangan seorang ibu ketika baru dilahirkan. Meski begitu, menjelang melahirkan dengan operasi caesar tiba, saya telah berada di titik kepasrahan seorang hamba. Saya meyakini bahwa Allah SWT telah menyiapkan takdir terbaik yang harus siap saya jalani. Jadi, harus tetap kuat!
Baca juga: Emang Boleh Minuman Tradisional Empon-empon Sesegar dan Sesehat Ini?
Keriweuhan menjelang melahirkan
Tiga hari menjelang melahirkan dengan operasi caesar, ternyata bayi saya udah gak tahan ingin segera melihat indahnya dunia. Akhirnya jadwal operasi caesar pun dimajukan dari hari yang telah ditentukan. Takut keburu si bayi keluar, malah bahaya! Jeng jeng jeng, keriweuhan dimulai!
Saya segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani aneka tes darah. Tes ini dibutuhkan untuk melihat tingkat kekentalan darah hingga waktu pembekuan darah. Karena saat itu masih dalam masa pandemi COVID-19, saya pun harus menjalani rapid test. Saat itu, kepala saya mulai terasa sakit karena efek penghentian antiplatelet dan antikoagulan. Kalau darah sudah agak kental, sakit kepala memang merupakan efek yang kerap saya rasakan.
Demi mengantisipasi terjadinya pendarahan pasca operasi caesar, dokter kandungan mensyaratkan untuk menyiapkan tujuh kantong darah sekaligus. Normalnya, dokter hanya akan meminta dua hingga tiga kantong darah pada proses melahirkan dengan operasi caesar. Berhubung saya memang dalam kondisi gak normal, butuh banyak kantong darah! Dengan segera keluarga saya bergerilya mencari pendonor darah hingga larut malam.
Telah selesai berjuang mencari pendonor darah, keriweuhan masih terus berlanjut. Saya mendapat kabar bahwa hasil rapid test bebsu positif, sehingga ia dicurigai terinfeksi virus COVID-19. Belum lagi ibu saya tercinta masih dirawat di rumah sakit karena sakit yang dideritanya. Saat itu pun saya tak tahu harus menitipkan twinnie yang masih balita ke mana. Wah, saat itu benar-benar riweuh nan hectic banget!
Meski banyak hal tak terduga terjadi sebelum melahirkan dengan operasi caesar, saya tetap mencoba sabar dan pasrah. Saya bertekad untuk menjaga kewarasan dan gak boleh stres agar proses melahirkan berjalan lancar. Pokoknya malam itu saya berusaha tidur nyenyak dan terus memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Baca juga: Tugas MC Mengenalkan Pembicara jadi Hal Penting di Sebuah Acara, ini alasannya!
Pertolongan Allah sangat dekat, operasi caesar berjalan lancar!
Sungguh Allah SWT maha besar, sehingga memberikan kelancaran pada proses operasi caesar yang saya jalankan. Bahkan, tujuh kantong darah yang telah disiapkan tak terpakai karena kadar hemoglobin saya normal setelah operasi. Komplikasi akibat trombositemia esensial juga tak saya alami seperti yang ditakutkan sebelumnya. Kabar baik lainnya, hasil tes PCR menyatakan bahwa bebsu negatif terinfeksi COVID-19, dan ibu saya bisa segera keluar dari rumah sakit. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Meski dihantui oleh berbagai risiko dan komplikasi melahirkan dengan operasi caesar akibat trombositemia esensial yang bisa merenggut nyawa, namun hanya Allah SWT yang mampu memberi pertolongan. Seburuk apa pun klaim yang diberikan manusia, ingatlah bahwa ada Sang Pencipta yang mengatur segala urusan dan satu-satunya tempat bergantung. Jadi, jika saat ini kamu sedang menjalani masa kehamilan dan melahirkan berisiko tinggi akibat trombositemia esensial, tetap semangat dan jangan menyerah ya, Brightees!

Leave A Comment